Our Wedding Path ♥

Daisypath Anniversary tickers

Our Baby ♥

Lilypie First Birthday tickers

Thursday, 23 September 2010

Judgment or Forgiveness??

Didalam kehidupan ini,tidak jarang kita tanpa sadar menghakimi seseorang tanpa peduli bagaimana keadaan yang dihadapi orang yang bersangkutan/bagaimana perasaan dari orang yang bersangkutan. Kamipun pernah secara tidak sadar berbuat demikiannangih.

"Menghakimi seseorang" dapat kami katakan sebagai kebiasaan,yang tidak jarang jika terus kita pupuk maka akan menjadi karakter kita. Kita tidak lagi dapat memandang secara positif kepada kelemahan/kelebihan orang lain,kita selalu berusaha mencari sisi negatif/kesalahan orang lain,bahkan kita terus mengingat sisi buruk orang terus tanpa mau belajar untuk memaafkan dan melupakannya. Apakah kita sebagai anak-anak Tuhan terus mempertahankan kebiasaan-kebiasaan demikian?...iya/tidak tentu saja bergantung dari diri kita sendiri,apakah kita mau berubah/tidak juga bergantung dari kemauan kita sendiri. Tuhan dengan sangat baik telah memberi Roh Kudus yang terus mengingatkan kita ketika kita sudah berada diluar jalur yang benar (dikala kita sudah mulai menghakimi orang lain). Namun, semuanya tidak akan berguna apabila kita tidak lagi mau mendengar suara Roh Kudus bahkan mematikan kuasa Roh Kudus tersebut dengan terus melakukan kesalahan yang sama (terus menghakimi dan tidak mau memaafkan orang lain).



Dari renungan yang kami dapatkan hari ini, ada beberapa cara yang mungkin dapat kita perbuat sehingga kita bisa mulai menghilangkan kebiasaan untuk menghakimi dan mulai memaafkan sesama kita:
1. Marilah kita belajar untuk memprogram ulang cara pandang kita terhadap orang lain. Bahwa setiap orang berbeda adanya, tidak ada yang sama satu dengan yang lainnya. Mereka memiliki keunikan masing-masing. Menanamkan dalam diri kita masing-masing bahwa setiap orang dibentuk menurut gambar dan citra Allah, sehingga penghargaan terhadap pribadi orang lain yang berbeda dari kita muncul dengan sendirinya. Dan tak lupa pula mengucap syukur bahwa kita masih diijinkan untuk juga dibentuk menurut gambar dan rupaNya,hal tersebut juga akan membuat kita terus dapat berpikir positif dengan setiap orang yang kita temui dalam kehidupan kita.

2. Berani untuk terus mengaku salah dan meminta maaf apabila kita secara sengaja/tidak sengaja sudah menyakiti hati sesama kita. Terlepas dari orang lain mau memaafkan diri kita/tidak..itu adalah tanggung jawab mereka sendiri denganNya. Belajar untuk mengakui adalah hal yang sukar, namun belajar untuk memaafkan adalah hal yang lebih sukar lagi. Dengan mengakui kesalahan maka kita belajar untuk bertanggung jawab terhadap apapun yang kita perbuat. Dan dengan memaafkan maka kita belajar bagaimana menerapkan kasih agape (kasihNya yang besar yang telah mati dikayu salib demi menebus dosa-dosa kita).

3. Tetap memberikan waktu bagi diri kita untuk berdoa. Mengijinkan Tuhan mengkoreksi kehidupan kita selama 1 hari melalui doa-doa kita sehingga kita selalu cepat sadar apabila telah melakukan tindakan yang salah dalam 1 hari yang telah berlalu. Entah tindakan yang salah karena sudah menghakimi orang lain/tidak memaafkan kesalahan orang lain.

4. Terus mengingat firmanNya dlm Matius7:1-2 bahwa dengan menghakimi orang lain,maka kitapun akan dihakimi pula dan ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Sebagai contoh: Seorang ibu yang berkata kepada anaknya, "Nak,jika kamu memberitahu kepada temanmu,"kamu jelek!"...temanmupun pasti akan memberitahu kamu "kamu juga jelek". Namun, jika kamu mengatakan kepadanya: "aku ingin menjadi temanmu!"...diapun pasti akan memberitahukanmu "aku juga ingin menjadi berteman denganmu". Dari contoh sederhana diatas, kitapun dapat menarik kesimpulan bahwa sebelum kita mulai mengatakan apapun kepada orang lain(menghakimi), katakanlah dahulu pada diri kita..apakah kita mau dan siap menerima perkataan tersebut??. Tuhan juga dapat menghakimi kita melalui orang-orang disekitar kita. Jadi tetap mengingat bahwa penilaian terhadap orang lain akan mengarah kembali kepada kita.

5. Tetap mengingat bahwa hanya Tuhan yang mempunyai hak untuk menghakimi kita-manusia. Pada akhir hidup kita, kitapun akan dinilai oleh Allah. Apabila kita pernah menghakimi orang lain, kitapun akan dihakimi menurut ukuran yang sama yang kita ukurkan kepada orang lain. Jadi...bentuk penilaian seperti apa yang kita inginkan dalam penghakiman terakhir nanti?, Jenis penilaian seperti apa yang kita inginkan dalam hidup ini?..Penilaian seperti apapun kita,kita harus berlakukan yang sama pula terhadap orang lain.

Semoga renungan yang kami dapatkan dan berusaha kami bagikan hari ini bukan hanya dapat bermanfaat bagi hidup kami, namun juga dapat bermaanfaatkan bagi rekan-rekan yang membaca artikel kami
senyum.

Bible's passage for the article above:
"Judge not, and ye shall not be judged. Condemn not, and ye shall not be condemned. Forgive, and ye shall be forgiven. Give, and it shall be given unto you: good measure, pressed down and shaken together and running over, shall men give into your bosom. For with the same measure that ye mete, therewith it shall be measured to you again." (luke6:37-38-KJV version)

Read More..

Tuesday, 21 September 2010

Are you ready to get married???

Setiap dari pasangan pasti ingin mendambakan sebuah pernikahan yang sempurna. Kamipun dulu juga mengalaminya. Kami berusaha mencari informasi untuk mempersiapkan segalanya. Bagi kami pernikahan yang terpenting bukanlah pesta pernikahan yang meriah dan megah, namun bagaimana kami bisa menjalani komitmen pernikahan kami nantinya dengan tetap takut akan Tuhan sampai maut memisahkan kami.

Sebelum kami menikah, kami tentu saja mengikuti persiapan pernikahan. Kami sudah menjalani LDR (Long Distance Relationship) yang cukup lama. Memang kami bertemu setiap tahun (dimanapun jauhnya kami berada, kami meluangkan waktu masing-masing untuk saling bertemu dan bertatap muka langsung), kami juga terus membawa hubungan kami dalam doa (kami bertemu di udara setiap malam), dan kami terus berusaha membangun komunikasi melalui email/chating. Tapi semuanya kami rasa belum juga cukup..kami masih membutuhkan bimbingan pra-nikah. Di dalam bimbingan pra-nikah yang kami jalani bersama, kami mendapatkan wawasan lebih dari para hamba Tuhan/pengalaman orang yang sudah menikah bagaimana menyesuaikan diri (karena kita berasal dari 2 pribadi yang berbeda,dan akhirnya kita hidup bersama-sama), persoalan yang mungkin timbul, mengatasi masalah sex, menumbuhkan cinta dan membangun keluarga yang takut akan Tuhan. Jadi bagi rekan-rekan yang sudah meyakinkan diri untuk menikah, jangan lupa untuk mengikuti bimbingan pra-nikahpeace. Jangan jadikan hal tersebut sebagai kewajiban namun sebagai anugerah dariNya karena akan ada banyak wawasan yang bisa diambil melalui bimbingan pra-nikah tersebut.



Namun bagi pasangan yang masih bingung/ragu dengan apakah sudah siap/tidak untuk menikah. Kami akan menyampaikan pengalaman yang kami dapatkan dan dapat kami bagikan sebagai berikut:
Menurut pendapat kami, bagaimana masa-masa pacaran kita juga menentukan kesiapan kita untuk menikah. Pada saat pacaran sebaiknya kita mulai mengenal calon pasangan kita dengan mendalam. Mengenal kepribadiannya, karakternya, latar belakangnya, visi dan misi hidupnya. Dan mulai menanyakan dalam diri kita,"apakah kita bisa hidup dengan dia seumur hidup kita?, apakah kita bisa tetap menyayanginya dikala dia nanti mulai berubah sejalan dengan umur yang semakin bertambah?". Untuk pasangan LDR memang cukup mendapat banyak tantangan untuk mempraktekan hal-hal diatas karena terbentur masalah jarak yang memisahkan. Kamipun dulu memang sebelum LRD, sudah mengenal satu sama lain, mulai bersahabat dan mempergumulkan...bahkan sampai jadian. Kami masih mendapat sedikit waktu bersama sebelum mempersiapkan hati untuk hubungan LDR. Namun ketika hubungan LDR sudah berjalan...banyak tantanganpun mulai kami hadapi..tapi cara menyelesaikan semua tantangan tersebut hanya satu: memperkuat hubungan kita masing-masing denganNya dan terus berkomunikasi. Untuk pasangan LDR bisa mengenal calon pasangan dengan mempersering intensitas komunikasi yang ada. Jika ada waktu,cobalah untuk mengusahkan chating dengan webcam karena wajah/tingkah laku langsung lebih efektif untuk mengetahui isi hati seseorang (meskipun tidak seefektif tatap muka langsung, tapi setidaknya itu usaha yang dapat kita lakukan).

Ada beberapa pertanyaan yang menurut kami mungkin bisa membantu kita sekalian untuk menjawab apakah kita sudah siap/tidak untuk menikah??
1. Apakah kita dan calon pasangan kita sudah memandang pernikahan dari sudut pandang yang sama?, dari sudut pandang kristiani?. Siapkan kita untuk melaksanakan kehendakNya dalam kehidupan pernikahan kita nantinya?.
2. Apakah kita sudah mengenal diri kita dengan baik?, siapakah diri kita?. Apakah kita dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang lain?, Sudahkah diri kita dan pasangan kita mengenal pribadi satu dengan yang lain?.
3. Bagaimana intensitas komunikasi yang kita jalin dengan calon kita selama ini?. Apakah kita sanggup untuk hidup dengan calon kita dengan gaya komunikasi yang ada seumur hidup kita?.
4. Bagaimana cara kita dan calon kita menangani permasalahan selama masa berpacaran?. Adakah saling mengalah dan memaafkan?. Mampukah diri kita menghadapi kemarahan calon kita?. Mampukah diri kita mengatur emosi kita dalam menghadapi tingkah laku calon kita?. Siapkah kita bersama calon kita menghadapi setiap masalah dengan bersama-sama dan tidak terpisahkan?
5. Sanggupkah kita dan calon kita mempertahankan komitmen yang ada sampai seumur hidup kita?.
6. Apakah harapan dan keinginan kita untuk mendirikan sebuah keluarga dan mendidik anak-anak kita nantinya sejalan dengan pemikiran calon kita?
7. Siapkah kita memikul beban pasangan kita?, mendukungnya ketika calon kita jatuh?, memahaminya ketika dia seorang diri?, menghibur dan memberi kekuatan ketika dia mulai putus asa?, serta tiada henti berdoa untuknya dalam keadaan apapun?.
8. Apakah pernikahan yang ada nantinya kita jalani dengan sukacita/dengan paksaan?. Sembari mengingat bahwa pernikahan tidak dapat dipisahkan oleh apapun, hanya maut dapat memisahkan hubungan yang ada. Namun pernikahan itu sendiri utuh didalam kasih Kristus.
9. Apakah kita sudah siap untuk terus berusaha menjalankan hubungan Kristus dan jemaat dalam hubungan kita?. Jika kita pihak wanita:Apakah kita(sebagai calon istri)mau belajar tunduk kepada calon kita sama seperti jemaat tunduk kepada Kristus (sebagai suami kita)?. Jika kita pihak laki-laki:Apakah kita sanggup mengasihi ((sebagai calon suami) pasangan kita (sebagai calon istri kita)dengan kasih yang tidak berkesudahan sama seperti Kristus mengasihi jemaat?

Pertanyaan dia atas tentu saja bukan menjadi ukuran bagi kita siap/tidak untuk menikah, namun setidaknya bisa membantu setiap kita yang mungkin masih ragu dengan pernikahan kita. Ketika semua pertanyaan diatas bisa dijawab dengan kesepakatan dengan calon kita, maka kita bisa mulai memikirkan pernikahan kita ...namun tetap bergantung penuh padaNya. Namun, apabila sebaliknya, maka mungkin saatnya kita dan calon kita sama-sama mengambil waktu untuk mengevaluasi pribadi masing-masing. Apakah memang kita dan calon kita sudah benar-benar siap untuk menikah?..tetapi tetap semuanya ada dalam kehendakNya.

Menurut pendapat kami, hal yang terpenting didalam sebuah hubungan adalah kita dan calon kita harus mempunyai hati yang sungguh-sungguh takut dan taat akan Tuhan. Setiap orang yang takut akan Tuhan bagaimapaun juga akan memperbaiki diri dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan, itulah fondasi yang terutama dalam sebuah hubungan. Sebuah hubungan bisa dikatakan sukses, bukan dari orang lain yang memandangan langgengnya hubungan tersebut tetapi bagaimana Tuhan memandang hubungan kita (memandang komitmen pacaran kita,komitmen pernikahan bahkan sampai komitmen kita dalam membentuk rumah tangga dan mendidik anak-anak kita nantinya).

Dari beberapa hal yang dapat kami bagikan diatas bukan karena kami pakar pernikahan namun kami dapat hal-hal tersebut melalui pengalaman hidup kami dan berbagai buku yang pernah kami baca dan renungkan bersama. Kamipun menyadari dengan jelas sebagai pasangan yang bisa dikatakan baru menikah, ada banyak yang masih harus kami perbaiki dalam hubungan kami. Kami tidak dapat bermegah melalui hubungan kami, tapi kami ingin bermegah didalamNya yang sudah melakukan hal-hal yang sangat luar biasa didalam hubungan kami. Oleh karena itu kami terus dan terus..bahkan selamanya akan bergantung padaNya, terus mencari kehendakNya didalam hubungan kami supaya kami tetap bisa terus belajar menumbuhkan kasih agape diantara kami dari hari ke hari. Bagaimanapun hubungan yang kita bina tidak akan sempurna tanpa campur tangan Tuhan didalamnya. Jadi saran kami adalah: tetaplah melekatlah padanya bersama dengan calon kita..maka kita akan melihat rencanaNya yang sempurna bagi hubungan kita. Bagi kami sekali lagi, pernikahan adalah seperti sebuah bentuk pendidikan..kamipun tidak akan pernah berhenti belajar satu sama lain dan saling mendewasakan satu sama lain. Dan si pendidik kami itupun adalah Kristus...DIA yang menjadi dasar dari komitmen hubungan kami dan kepala dalam hubungan kami.

If God is calling you to marry, He wants to join you to someone with whom you can build a strong, godly home filled with love and grace- a home that exalts Jesus Christ as Lord and a harmony in vision and purpose
angel

Read More..

Monday, 20 September 2010

Our Real Citizenship

Banyak orang jika berjalan-jalan di London, ingin melihat kemegahan gedung-gedung disana. Salah satu bangunan khas yang menunjukkan bagaimana kehidupan kelas atas adalah rumah Tuan Rothschild di Piccadilly "Lord Rothschild Mansion". Lord Rothschil adalah seorang yang sangat sukses di London di bidang perbankan dan keuangan pada akhir abad 18. Dia adalah seorang penganut yahudi orthodox dan dia memiliki rumah yang sangat menawan.



Namun dibalik rumah yang menawan tersebut, apabila diperhatikan secara mendetail..ada bagian akhir tembok yang menghiasi bangunan tersebut nampak tidak selesai..ada bagian yang kurang. Banyak orang yang mengunjungi rumah tersebut mulai bertanya "mengapa orang yang terkenal sangat kaya raya tersebut tidak menyelesaikan pembangunan rumahnya?, atau adakah kecerobohan dalam pembangunannya?",tentu saja untuk memberi jawaban dan penjelasan atas keunikan tersebut berhubungan langsung dengan pribadi Lord Rothschild sendiri. Lord Rothschild sendiri terkenal sebagai seorang Yahudi ortodoks. Dan dalam tradisi orang Yahudi dikatakan bahwa bagi setiap orang Yahudi yang saleh yang ingin membangun sebuah rumah, maka rumah yang dibangun harus memiliki beberapa bagian yang tidak boleh diselesaikan. Bagian rumah yang tidak selesai tersebut untuk memberikan kesaksian kepada dunia bahwa kita di dunia ini hanya selayaknya seorang peziarah saja, kita bukan warga tetap didunia ini...kita semua nantinya akan pergi ke keabadian. Dalam sedikit waktu yang kita miliki ketika kita singgah sementara didunia ini, tentu saja ada banyak hal yang tidak bisa kita selesaikan semuanya.

Hidup ini memang begitu penuh dengan kerja keras, bahkan karena kesibukkan yang kita hadapi setiap harinya, kitapun kadang tidak lagi mengingat siapakah diri kita sebenarnya (yang dalam kebenarannya bahwa kita adalah warga negara surga). Kita tidak jarang hanya memfokuskan diri kita pada bagaimana mencapai kehidupan yang sukses, membangun usaha yang besar, dan membesarkan anak. Kita hanya memperhatikan diri kita sendiri, melayani rumah tangga kita sendiri, mengatur keuangan kita, mencapai kesuksesan apabila kita mampu mencukupi kehidupan dari keluarga dan orang-orang yang kita sayangi.

Tetapi bagaimanapun suksesnya kehidupan yang kita jalani dan banyaknya harta yang mampu kita timbun, kita harus mengingat kembali bahwa kita hanyalah seorang peziarah didunia ini. Kita bukannya warga negara dunia ini. Kewarganegaraan kita yang sebenarnya adalah bersama dengan Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah mempersiapkan tempat tinggal abadi untuk setiap kita di sana..di surgaNya yang mulia.

Dengan kita mengingat kembali bahwa kita bukan warga negara dunia ini, maka hal tersebut akan membuat kita semakin merendahkan diri dihadapanNya karena tidak ada yang dapat kita banggakan dengan apa yang kita capai dan dapatkan didunia ini. Kita mengerti dengan benar bahwa hidup ini sementara dan semua yang kita dapatkan juga dariNya.

These all died in faith, not having received the promises, but having seen them afar off, and were persuaded of them, and embraced them, and confessed that they were strangers and pilgrims on the earth (KJV-Hebrews 11:13)

Read More..
Our Journey © 2008 Por *Templates para Você*