Our Wedding Path ♥

Daisypath Anniversary tickers

Our Baby ♥

Lilypie First Birthday tickers
Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Tuesday, 19 July 2011

Love always protects

"Kasih selalu melindungi." Jika dilihat dalam bentuk kata kerjanya "protect dalam bahasa inggris" berarti untuk menutupi, mengabaikan dengan cara mendiamkannya dan menjaga tetap kerahasiaan yang ada. Kasih yang demikian besar dan berdampak jika kita lihat lebih jauh didalam alkitab, maka kitapun dapat mengetahui bahwa kasih dapat juga menutupi segala pelanggaran kita (Amsal 10:12) dan segala dosa-dosa kita (1 Petrus 4:8). Kasih yang sempurna itu bisa kita temukan dan pelajari didalam pribadi Allah yang maha segalanya melalui pribadi Yesus Kristus anakNya yang tunggal yang telah dikorbankan untuk menutupi segala dosa-dosa kita.


Jika kita mulai menggali lebih dalam, kita akan mengetahui bahwa kata untuk 'membuat pendamaian' dalam bahasa Ibrani: "kaphar" mempunyai arti 'untuk menutupi'. Yesus Kristus yang adalah Imam yang maha Tinggi tanpa cacat dan dosa, dikurbankan untuk menghapuskan dosa kita dengan menutupinya melalui penebusanNya yang sempurna di kayu salib. DIA telah 'membuat pendamaian', dan melindungi kita dari kutukan.

Kami percaya bahwa apa yang Allah di dalam Kristus telah lakukan bagi kita dimaksudkan untuk menginstruksikan kita untuk melakukan untuk orang lain. Apabila kasih memang selalu melindungi dan menutupi..kemudian apakah kita dalam praktek hidup sehari-hari sudah melindungi pasangan saya/orang-orang yang terdekat didalam hidup saya?,tidak hanya ketika mereka sedang menghadapi bahaya secara fisik tetapi juga dari bahaya cedera secara emosional.
Beberapa hal yang kita dapat renungkan bersama mengenai cidera emosional tersebut adalah:

1. Ketika kita mengetahui bahwa ada orang lain yang mengatakan sesuatu yang menghina tentang istri/suami kita /orang yang kita sayangi apakah kita hanya "membiarkannya" atau kita melindunginya?
2. Apakah kita akan melindungi mereka yang kita sayangi dari kata-kata orang lain yang menyakitkan/berdampak negatif?
3. Apakah kita melindungi mereka yang kita sayangi dari diri kita sendiri yang mungkin secara sengaja/tidak sengaja kadang mengucapkan kata-kata yang menyakitkan mereka?
Apapun yang menjadi jawaban kita atas pertanyaan diatas akan menolong kita untuk mengevaluasi diri sendiri akan apakah kita sudah mampu melindungi orang lain yang kita sayangi dari cidera emosional. Mari kita terus belajar untuk jujur​​.Jujur apakah kita sudah mengasihi mereka dengan melindungi mereka dari cidera emosional yang disebabkan oleh orang lain/ bahkan oleh diri kita sendiri.Jika kita masih belum mampu melindungi mereka yang kita sayangi dari orang lain/ bahkan dari diri kita sendiri, maka kita sebenarnya belum benar-benar mengasihi mereka, terlepas dari apa yang sudah kita pikirkan /
pun sudah perbuat didalam kehidupan mereka.

Melalui perenungan singkat akan kasih yang selalu melindungi ini, kitapun dapat terus belajar bagaimana seharusnya kita memperlakukan satu sama lain. Bagaimana kita dapat terus belajar untuk memberikan perlindungan, bermurah hati dan memberi pengampunan kepada orang lain. Mengampuni sebagaimana kita telah diampuni (mat 7:1-2), mengasihi orang lain dengan tidak memojokkan orang lain akan segala kelemahan yang mereka miliki, belajar untuk tidak terus mengingat setiap kesalahan kecil yang orang lain lakukan, serta tidak bergosip tentang kesalahan sesama kita.

Pada akhir perenungan kami, makapun kamipun dapat menyimpulkan bahwa memang kasih selalu menutupi kesalahan/pelanggaran orang lain. Hal ini dikaitkan dengan melindungi yang tidak bersalah. Kasih melindungi dengan pengampunan seperti halnya Allah mengasihi kita dengan menghapuskan dosa kita. Jadi tidak dapat dikaitkan dengan menutupi kejahatan keji/hal-hal yang membahayakan orang-orang yang tidak bersalah.

Sekali lagi kita dapat melihat dan belajar bagaimana kasih yang selalu melindungi itu dari bagaimana cara Allah telah melindungi kita dengan jubah kasihNya melalui penebusan Yesus Kristus anakNya yang tunggal diatas kayu Salib.

Apakah kita mau terus belajar mengasihi sesama kita dengan selalu melindungi mereka sama seperti begitu besarnya Allah Bapa disurga sudah mengasihi kita yang berdosa ini?

"Therefore, there is now no condemnation for those who are in Christ Jesus, because through Christ Jesus the law of the Spirit who gives life has set you[a] free from the law of sin and death" (Romans 8:1-2, NJV)

Read More..

Friday, 12 November 2010

Love does not delight in evil but rejoices with the truth

James,10tahun dan Jack,8tahun adalah 2 bersaudara. Mereka memang bersaudara, namun dengan sifat yang sangat bertolak belakang. James dari kecil memang dikenal sebagai anak yang tulus, tidak pernah nakal, selalu taat kepada orang tuanya. Sedangkan Jack yang dari kecil terkenal nakal dan selalu membantah orang tuanya.
Suatu ketika mereka diajak ibunya ke supermarket..
"James, Jack..kalian harus bersikap baik disupermarket ya. Tolong jangan membuat keributan dan jangan menganggu orang lain..terutama kamu Jack",kata Ibu dengan tegas.
"Baik Bu, saya akan berusaha menjaga diri..demikian pula mengawasi Jack", jawab James dengan penuh kedewasaan.
"Sip Bu..siap grakkk",jawab Jack tanpa keseriusan.
Selama berbelanja memang Jack diam-diam saja, namun dibalik itu dia tetap memikirkan cara untuk mengodai dan mempermalukan kakaknya si James. Akhirnya dia menemukan cara jitu untuk membuat James dipermalukan. Jack secara diam-diam mengambil sebatang coklat dirak dan secara diam-diam pula meletakkan coklat itu dikantong James.


Jamespun tidak sadar karena dia sibuk didepan rak coklat. James memang sangat serius jika melihat coklat karena dia senang sekali dengan coklat. Akhirnya James mengambil sebuah coklat kesenangannya..dan ditaruhlah di kereta belanjaan Ibunya.
Setelah sesaat Ibunya sudah membayar...mereka kemudian keluar dari supermarket tersebut dan melewati pintu keluar. Ternyata sirine pada pintu tersebut berbunyi, berarti ada yang mencuri barang dari supermarket tersebut. Ibupun terkejut.
"Jack, James..apakah kalian mengambil barang tanpa membayarnya?, tanya Ibu dengan sedikit marah..terutama pandangan tajam diarahkan kepada Jack.
"Ibu, saya tidak mengambil apapun..semua yang saya ambil sudah saya letakkan di keranjang belanjaan Ibu", sahut James dengan sangat jujur dan polos.
"Iya James ibu tahu...tapi kamu Jack??,kamu bagaimana?, tanya Ibu dengan sedikit emosi.
"Saya..saya juga tidak mengambil apa-apa. Sungguh Bu..!!",jawab Jack sambil merogoh kantong celananya yang memang kosong.
"Sudahlah Bu..saya akan memeriksa anak Ibu dulu untuk memastikan bahwa anak-anak Ibu tidak ada yang mencuri", kata petugas keamanan dengan tegas.
.....sesaat setelah diperiksa ...ternyata di kantong celana James ada sebatang coklat kecil.
James kaget dan bingung, Ibu juga bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa...banyak orang-orang yang melihat mereka.
Namun Jack yang sudah melakukan kejahatan tersebut dengan mencurinya kemudian meletakannya di kantong James..hanya diam dan tertawa.

Dari cerita pendek diatas, itukah kasih?, dengan melihat ketidakadilan terjadi namun hanya diam dan senang melihatnya?,bahkan bersukacita justru karena ketidakbenaran terjadi?,atau bahkan senang karena sudah menjerumuskan orang lain dalam ketidakadilan?,tentulah bukan begitulah karakter kasih...karena KASIH tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran (1Kor13:6)

Ditengah-tengah dunia yang makin bobrok inipun, kitapun diingatkan kembali untuk memancarkan kasih kita kepada sesama kita. Seberapa pedulikah kita untuk mengasihi sesama kita dengan tidak mengabaikan mereka/mendorong tindakan-tindakan mereka yang salah?,seberapa beranikah untuk menunjukkan kasih kita dengan menyatakan kebenaran?
Semua pertanyaan diatas kiranya menjadi evaluasi kita bersama, apakah kita sudah benar-benar mengasihi sesama kita selama ini.

Kasih itu sendiri selain tidak mendorong atau mengabaikan ketidakadilan, tetapi juga selalu mendorong untuk melakukan apa yang benar. Namun ada banyak hal diduni ini yang mampu mendorong kita menjauhi apa yang benar, contoh: pada saat kita sedang jalan-jalan santai kemudian kita menemukan dompet yang terjatuh di jalan yang sedang kita lalui. Terdapat banyak uang di dompet itu, namun tidak ada kartu identitas bahkan foto pemiliknya didalamnya. Apakah kita tetap membawa dompet itu ke kantor polisi?/mengambil uang didompet tersebut kemudian meninggalkannya?/atau berlagak tidak tahu dan meninggalkan dompet itu?.Hal-hal sekecil itulah yang kadang "tidak langsung" menggoda kita untuk melakukan yang tidak benar, padahal kita tahu bahwa yang benar adalah membawa dompet itu ke kantor polisi, tapi kadang karena kita tidak mau pusing-pusing maka cukup berlagak tidak tahu daripada malah menambah daftar panjang urusan akibat menemukan dompet yang tak dikenal tersebut. Kadang-kadang memang untuk melakukan apa yang benar terlihat sangat sukar dan mungkin akan lebih mahal harganya, tetapi melakukan hal yang salahpun pada akhirnya juga justru tak kalah akan lebih mahal harga yang harus kita bayar. So which one do we choose???

Didlam 2 Tim3:16, kita sebagai anak-anakNya memiliki pegangan yang kuat untuk terus hidup benar didalamNya karena firmanNya dan Roh Kudus yang terus membimbing kita untuk hidup benar. Namun tidak hanya disitu saja, karena kitapun dipanggil untuk menyatakan kebenaran pada sekeliling kita -"Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa",Ibr3:13. Dan menasehati disini tentu saja bukan kita kemudian mengurui/memaksa seseorang/berlagak sok benar dihadapan orang lain, tetapi dengan penuh kasih,melalui
persahabatan,tindakan kita dan doa tentunya. Jadi..Apakah kita sudah mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang benar?,Pertanyaannya adalah:.!??. Apakah kita sudah melakukannya???

Blessed is the one who does not walk in step with the wicked/stand in the way that sinners take/sit in the company of mockers, but whose delight is in the law of the LORD, and who meditates on his law day and night (NIV/Psalm1:1-2)

Read More..

Friday, 15 October 2010

Love keeps no record of wrongs

Kita mungkin sering mendengar orang mengatakan, "Saya bisa memaafkanmu, tetapi saya mungkin sulit melupakan kesalahan yang telah kamu perbuat terhadap saya". Melalui kalimat ini kita melihat bahwa sulit sekali bagi kita manusia untuk melupakan orang-orang yang telah menyakiti kita/kitapun cenderung untuk selalu mengingat apa yang telah terjadi. Namun jika kita belajar untuk mengubah hidup kita didalam kasihNya, kitapun akan semakin sadar bahwa kita sebenarnya tidak punya hak apapun untuk "menyimpan file" dari dosa-dosa orang-orang pada masa lalu mereka.


Sejenak ketika kami ingin membahas mengenai bentuk kasih ini, kamipun tiba-tiba teringat akan Suzanne Fields (seorang pembicara terkenal pada Clare Boothe Luce Policy Institute dan seorang penulis handal di The Washington Times) yang pernah mengatakan bahwa, "otak kita mungkin dirancang dengan cara tertentu, tapi bagaimana kita mengaktifkan sel-sel dan membuat koneksi dari masing-masing bagian membuat semuanya menjadi berbeda". Jadi dapat diartikan bahwa kita sebenarnya mampu mengendalikan bagaimana kita merespon setiap pengalaman negatif yang hadir dalam hidup kita (entah pengalaman kita pernah disakiti orang lain/orang lain yang akan menyakiti kita).


Sebenarnyapun ada obat yang dapat membantu kita untuk menyingkirkan semua kebencian karena pengalaman negatif yang kita dapat...obat itu tidak lain adalah KASIH karena kasih tidak "menyimpan file" dari sakit hati, kesalahan, persaan terluka, bahkan tidak tertarik untuk membuat keadaan "sama rata" (=seseorang yang menyakiti kita harus merasakan keadaan yang sebanding dengan rasa sakit yang kita terima).

Ada 2 langkah yang mungkin dapat membantu kita untuk mengobati kebencian/sakit kita terhadap orang lain sehingga kita dapat perlahan melupakan kesalahan orang tersebut..

1. Terbuka kepada Allah
Terbuka untuk mengungkapkan perasaan kita yang sedang terluka kepadaNya. Belajar untuk terbuka mengakui perasaan kita dihadapanNya dan menghadapinya adalah awal proses penyembuhan luka batin kita. Jika kita hanya berusaha curhat kepada sahabat kita dengan menceritakan kejadian pahit yang kita alami..kita melakukannya berulang-ulang, hal tersebut justru tak jarang malah akan membuat kita semakin sakit hati lebih dalam. Dengan mengulang cerita, kita secara tanpa sadar akan semakin menumbuhkan kebencian kita, dan itu bukanlah sebuah penyembuhan. Dengan curhat kepada orang lain mungkin kita akan merasa tenang "sejenak", namun tidak akan benar-benar membawa kesembuhan dalam hidup kita...hanya Tuhanlah yang dapat menyembuhkan perasaan kita melalui kasihNya.

2. Mengampuni orang lain
Langkah kedua adalah belajar untuk membiarkan orang-orang yang sudah menyakiti kita,membebaskan mereka, mengampuni mereka, dan membiarkan mereka pergi dari kehidupan kita. Sebenarnya jika kita mau jujur, tujuan kita membalas dendam kepada orang lain tidak hanya supaya orang-orang yang telah menyakiti kita mendapatkan rasa sakit yang sama, namun bahkan kita ingin mereka merasa "lebih sakit" dari apa yang pernah kita terima. Oleh karena itu, pengampuni dapat dikatakan sebuah proses yang berat dan panjang, yang harus dilakukan secara terus menerus. Seperti halnya Tuhan Yesus mengingatkan kembali kepada kita didalam Matius 18:21-22,"...Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.". Didalam firmanNya tersebut, kita didikNya untuk hendaknya terus menerus belajar mengampuni bahkan sampai kita kehilangan hitungan berapa kali kita telah mengampuni orang lain yang telah bersalah kepada kita.

Rasa sakit, dendam, dan luka lain tidak jarang hanya akan menambah beban dalam hidup kita. Dan hal tersebut juga akan lambat lain membuat kita tidak dapat mengalami dan menikmati kasihNya. Namun, dengan selalu mendekat padaNya dan mengalami kasihNya dalam hidup kita akan dapat membersihkan dosa-dosa kita serta membersihkan dosa dan kesalahan yang disebabkan oleh orang lain kepada diri kita. Ketika kita tidak lagi menyimpan kesalahan orang lain maka dapat membuat hidup kita lebih bahagia, mendapat hal-hal yang terbaik dalam hidup kita, kita dapat bergerak maju menjalani hidup kita dengan cara yang lebih sehat dan positif, bahkan kita dapat menikmati kasihNya didalam hidup kita.


Love does not "keep inventory" of wrongs, hurts, insults, or offenses with a view to returning the same in kind...and Love has no interest in "getting even"



Read More..

Monday, 13 September 2010

Love is not easily angered

"Love is not easily angered"-dapat kami artikan sebagai kasih tidak mudah marah. Dalam memahami bentuk kasih yang satu ini sangatlah susah karena ada banyak hal yang dapat memicu kita untuk lekas marah pada orang lain, dari kejadian terkecilpun karena kesalah pahaman bisa memunculkan amarah yang kemudian lambat laun menjadi hal besar dan bahkan tidak jarang menimbulkan dendam dan sakit hati. Semua orang pasti pernah menjadi marah bahkan kadang sampai kehilangan kesabaran dan mulai bereaksi tanpa berpikir panjang. Karena kemarahan itupun tidak jarang akan mendorong kita untuk berkata dan melakukan hal-hal yang biasanya tidak pernah kita lakukan (bahkan bisa juga mengarah pada kekerasan fisik). Dan ketika kita mulai kehilangan kendali atas pikiran dan perasaan kita,kita menjadi lekas marah, maka kemarahan itu dapat merusak kasih yang kita bangun dengan orang lain (baik dalam hubungan sebagai sahabat, teman, orang tua-anak, suami-istri,dll).



Ketika kita mengetahui dengan benar bahwa DIA mengajarkan kepada kita bahwa kasih tidak mudah marah itu berati bahwa kita diajarkan untuk tidak mudah tersinggung, mudah terprovokasi, marah, curiga bahkan peka terhadap perasaan kita. Kita belajar untuk bagaimana lambat untuk marah (tidak membiarkan hal-hal kecil yang tidak sejalan dengan kita membuat kita "marah"), bagaimana untuk memahami orang lain dengan menempatkan diri kita pada sepatu orang lain, bagaimana untuk mendengarkan, dan bagaimana memadamkan amarah kita sebelum matahari terbenam(Ef4:26).

Ketika kita mudah terprovokasi, mulailah kita tanpa sadar menunjukkan kurangnya kontrol pada diri kita sendiri dan kurangnya kepercayaan kita pada Tuhan...dan disaat itulah kemarahan mulai muncul serta dosapun mulai datang menghidapi kita. Kemarahan tersebut juga tidak jarang akan membawa kita nantinya kepada kepahitan kepada orang lain bahwa terlebih besar nantinya kita akan terprovokasi untuk menghancurkan orang lain (orang yang tidak kita sukai tersebut). Karena begitu besarnya akibat yang disebabkan oleh kemarahan maka baiklah kita sama-sama belajar untuk memupuk iman kita dengan kasih dariNya. Kasih dariNya tersebut akan menghilangkan segala keraguan, ketakutan bahkan frustasi yang akan membawa kia pada kemarahan dan merugikan orang lain. DIA adalah figur teladan kasih yang sempurna bagi kita. DIApun pernah marah, namun bagaimanapun DIA dapat mengendalikan kemarahanNya dan tidak berbuat dosa (Mark3:5,Yoh2:15).

Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan bersama sehingga kita mampu mengendalikan kemarahan kita:
1. Kita hanyalah manusia yang tidak sempurna.
Kita semua pasti melakukan kesalahan, tapi bagaimana kita dapat melatih diri kita untuk bertanggung jawab terhadap kesalahan yang kita perbuat. Belajar untuk melatih diri kita meminta maaf atas segala kesalahan yang ada, dan bukan malah berusaha mencari kesalahan orang lain guna menutupi kesalahan kita. Dan karena ketidak sempurnaan kita maka tidak ada alasan bagi kita untuk menyalahkan/menghakimi orang lain akan kesalahan mereka (karena tidak ada satupun diantara kita yang tidak pernah tidak berbuat salah). Karena ketidak sempurna kita itulah,DIA mengingatkan kita kembali untuk cepat mendengar namun lambat untuk marah karena amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapanNya (Yak1:19-20).
2.Kita memiliki Bapa yang panjang sabar.
Bahkan dengan kesabaranNya yang luar biasa itulah, DIA sampai menyerahkan anakNya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita. Kita yang setiap hari,bahkan setiap detik sering melakukan kesalahan dihadapanNya, namun DIA dengan kesabaranNya mau mengerti kita dan menuntun kita untuk kembali kejalanNya bahkan dengan tiada bosannya mengingatkan kita jika kita bersalah. Melalui kasih dan pengampunanNya yang telah DIA beri tiada henti pada kita, marilah kita terus belajar dariNya untuk melatih diri kita tidak mudah marah terhadap kesalahan orang lain.
3. Terus melekat padaNya.
Dengan kita melekat padaNya, kita bisa menjalankan firmanNya dengan baik dalam hidup kita (Ams19:11). Ketika kita berjalan dalam persekutuan dengan Dia, kita ingat bahwa kita hanyalah manusia yang tidak sempurna. Kitapun boleh belajar untuk mengisi hati kita dengan Kristus sehingga kita lambat untuk marah dalam setiap hubungan kita terhadap orang lain.

"A love relationship with Jesus Christ enables us to be a blessing to othersstar"

Read More..

Wednesday, 4 August 2010

Love is not self-seeking



Gambar diatas adalah contoh ilustrasi sederhana mengenai sifat egois dan mementingkan diri sendiri. Cerita singkat dari ilustrasi tersebut adalah: Ada seorang anak kecil yang baik hati bernama San Mao. Dia terus membantu orang lain dan memberikan apapun yang dia miliki untuk orang lain. Bahkan ketika dia sedang berjalan-jalan, dia melihat seorang anak kecil yang kedinginan dan tidak memakai baju, dia rela untuk memberikan bajunya untuk anak tersebut. San Mao sendiri hidup pada jaman era komunis diCina, dimana pada jaman tersebut kemiskinan terus kontras dengan kekayaan. Orang kaya semakin egois dan menjijikkan. Namun dari sekian banyak orang yang mampu (tergolong ekonomi sedang), hanya San Mao satu-satunya anak yang masih mau berbagi dengan orang lain. Adakah kita masih memiliki hati seperti San Mao???. Kita sebagai anak-anak terang harusnya mampu berbuat lebih baik daripada seorang San Mao.

Jika kita kembali belajar mengenai kasih itu sendiri maka kita dapat menemukan bahwa kasih yang sempurna tidak mencari keuntungan diri sendiri,tidak hanya peduli pada diri sendiri, tidak egois dan tidak mementingkan diri sendiri. Namun, masih adakah kasih seperti itu didunia ini?, apakah dunia akan menertawakan kita apabila kita menerapkan kasih tersebut?, beranikah kita menjadi berbeda dengan menerapkan kasih tersebut?...pertanyaan tersebut mungkin bisa menjadi bahan evaluasi bagi kita semua.



Sebagai orang kristen, kita tahu dengan benar bahwa hukum tertinggi yang diberikan oleh Tuhan supaya kita patuhi adalah "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."(Luk10:27). Jadi kita tahu bahwa kasih tersebut adalah penting, kita harus mengasihi Tuhan (sebagai yang terutama), namun kita juga harus belajar untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri.

Namun adakah anak-anak Tuhan masih ingat dan menjalankan perintah tersebut ditengah-tengah persaingan dunia ini?. Kami menulis artikel ini sekaligus juga untuk menegur dan mengevaluasi diri kami sendiri. Kami rasa dibelahan dunia manapun,bukan hanya dibelanda tempat kami tinggal...persaingan didunia ini sangatlah ketat. Orang tidak hanya bersaing untuk mencari kerja, namun juga mencari jodoh, mencari uang, mencari popularitas, mencari kenyamanan,dll. Banyak orang berlomba untuk mencari keuntungan (bahkan dengan menghalalkan segala cara), memperkaya/memperkuat diri dan bahkan memanfaatkan orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Orang dunia berpikir bahwa siapa kuat dia menang. Mereka tidak lagi berpikir tentang orang lain disekitarnya, yang terpenting adalah memperkuat diri mereka sendiri, orang lain akan menjadi penting apabila bisa dimanfaatkan untuk keuntungan mereka. Merekapun tidak segan-segan untuk membunuh, berperang bahkan menyiksa orang lain demi mencapai tujuan mereka. Mungkin seperti itulah yang kami rasa sebagai tanda-tanda awal akan akhir jaman. Tapi dibalik semua hal tersebut,Tuhan masih berkarya dengan berbagai macam cara agar kita kembali berbenah diri dan menyiapkan kedatanganNya dengan kembali berbalik pada kasih kita mula-mula, belajar menghidupi dan membagikan kasihNya yang telah kita terima kepada sesama kita.

Kami menyadari benar bahwa mengasihi sangatlah susah, namun jika kita mau terus belajar menghidupinya maka lambat laun kasih tersebut akan mendarah daging dalam hidup kita. Dari hasil perenungan yang kami lakukan, ada beberapa cara yang bisa lakukan supaya kita bisa mencapai kasih yang tidak egois tersebut:

1. Melakukan rekonsiliasi dengan Kristus setiap hari
Didalam proses rekonsiliasi tersebut kita berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Kristus, baik melalui doa maupun saat teduh. Semakin kita mengenalNya, semakin kita bisa mencontoh semua teladan hidupNya dan semakin membuat kita mencintaiNya. Apabila proses tersebut berjalan dengan berkesinambungan maka kami percaya bahwa kita lambat laun dapat menjadi contoh dari cintaNya, menjadi saksi dan berbagi kasih serta kabar baik kepada sesama kita, bahkan kita akan dimampukanNya untuk membawa sesama kita ke dalam suatu hubungan pribadi denganNya.

2. Hidup didalam kasih agape.
Agape adalah bentuk kasih yang tertinggi. Kasih yang bisa kita temukan didalam diriNya yang rela mati di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Kasih yang tanpa syarat, kasih yang tidak egois, bahkan kasih yang mencari kesejahteraan orang lain sekalipun mengorbankan dirinya sendiri. Dengan hidup didalam kasih agape maka kita diharapkan untuk belajar tidak terutama menjadi kebahagiaan diri sendiri, akan tetapi bagaimana membuat orang lain/sesama kita bahagia dengan kehadiran kita.

Kami menyadari bahwa menerapkan kasih tersebut sangatlah susah,tapi marilah kita belajar untuk bukan hanya tahu tentang kasih tersebut, namun bagaimana kita mampu mengaplikasikannya dalam hidup kita. Namun didalam mengaplikasikannya kita tentu saja tidak dapat melakukannya dalam kekuatan kita sendiri, kita memerlukan hikmat dariNya sehingga kita tahu kapan waktu yang tepat untuk menyatakan kasih tersebut pada sesama kita. Kita harus mengerti kapan harus menolong orang lain/bahkan menolak untuk menolong demi kebaikkan orang yang bersangkutan, kapan harus bertindak dan kapan harus menunggu, kapan harus berjuang dan kapan harus menyerah. Dengan memohon pimpinan dariNya maka kita bisa lebih efektif dalam membantu orang lain dan mengasihi mereka dalam keberadaan mereka.

"Love everyone the way God loves"

Read More..

Tuesday, 6 July 2010

Love is not rude


Pada artikel kali ini, kami akan berusaha membahas mengenai kasih tidak berbuat kasar. Didalam beberapa artikel yang lain, kita telah belajar bahwa kasih tidak iri hati/cemburu (lawan iri hati adalah kepuasan/menerima keadaan yang ada), kasih tidak berbangga diri (lawan dari kebanggaan adalah kerendahan hati), dan saat ini kita akan belajar kasih tidak berbuat kasar (lawan dari kekasaran itu sendiri adalah rasa hormat). Kelihatannya sangat mudah untuk diucapkan bahwa jika kita mengasihi orang lain maka itu berarti kita tidak boleh berbuat kasar terhadap orang yang bersangkutan.... Namun, seberapa banyak dari kita bisa melatih diri kita untuk memberi hormat dan tidak berbuat kasar kepada : suami/ istri kita?, orang tua/anak kita?, guru/pendidik kita?, teman/sahabat kita?, bahkan pembantu kita dirumah??. Justru dengan hal-hal yang kecil/sepele, bagaimana kita menghormati orang-orang disekitar kita...yang hidup dekat dengan kita sangat susah untuk dilakukan...tapi kita cenderung malah ingin terlihat baik dengan berbuat baik, hormat, sopan, membantu terhadap masyarakat diluar kita (supaya orang menganggap kita baik dan penuh kasih adanya)...apakah itu benar??.......Benar / tidaknya kembali kepada hati nurani kita sebagai orang Kristen.

Kami berharap semoga artikel singkat yang akan kami paparkan di bawah ini bisa mengingat kita sekalian untuk kembali mengetahui apakah yang dimaksud dengan kasih tidak berbuat kasar dan bagaimana cara kita untuk mengasihi orang lain dengan menunjukkan rasa hormat, perhatian, sopan, dan memiliki sikap yang baik.






Menurut pendapat kami, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk melatih diri kita mengasihi sesama kita tanpa berbuat kasar kepada mereka:

1. Belajar untuk melayani sesama kita dengan penuh pengertian, bukan tuntutan.
Bagaimana cara kita melayani orang lain dengan penuh pengertian?
a. Kita berusaha mengerti keadaan orang lain sebagaimana kita selalu ingin orang lain mengerti akan keadaan kita. Hal ini terungkap nyata juga didalam perintahNya yang terdapat dalam Luk 6:31 "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." Jadi jika kita tidak mau orang lain menuntut, agresif, dan merendahkan diri kita..janganlah kita melakukan hal-hal tersebut kepada orang lain.
b. Kita mencontoh pribadi Tuhan kita Yesus Kristus. Bagaimana DIA dengan penuh pengertian melayani orang lain seperti yang terdapat dalam Luk 7:36-50. Disana diceritakan bahwa ada seorang farisi bernama Simon mengundang Yesus untuk makan malam di rumahnya. Kemudian dikatakan juga nantinya bahwa ada seorang pelacur masuk ke kamar dan menangis. Tanpa mengatakan apa-apa, tetapi dengan tindakannya si pelacur itu menunjukkan betapa Yesus berarti baginya. Si pelacur tersebut membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya, mencium dan menuangkan parfum mahal pada kaki Yesus. Apa yang Yesus lakukan pada akhirnya?, Yesus ternyata mau menyentuh wanita yang kotor itu, menatap dirinya dan memperlakukannya tanpa penghinaan...DIA melayani wanita tersebut dengan penuh pengertian. Jika DIA yang penuh dengan keagungan dan kemuliaanNya mampu melayani orang yang telah dianggap salah satu sampah, najis, dan kotor dengan penuh pengertian dan kasih yang tidak kasar...apalah kita???. ..melalui cerita tersebut diatas , marilah kita terus belajar untuk mengasihi orang lain dengan cara melayani mereka tanpa tuntutan..siapa mereka, apapun kedudukan mereka, dan seberapa besar perbedaan mereka dengan kita!!

2. Belajar untuk menyadari bahwa kita dapat hidup sampai sekarang karena kasih karuniaNya.
Kita telah dikasihiNya (Ef 2:1-10). Kita yang penuh dengan dosa telah diselamatkanNya dengan darahNya di kayu salib. Seharusnya, perasaan kita yang telah dikasihiNya membuat kita lebih mudah untuk mengasihi orang lain..karena kita tahu bahwa tidak ada seorangpun didunia ini yang lebih baik dari orang lain (semua orang sama-sama berdosanya) dan semua orang butuh akan pengampunan. Tidak ada lagi orang yang patut direndahkan, diperlakukan dengan kasar dan tidak sopan adanya.

3. Belajar untuk tetap bersikap netral, lembut dan tidak menghakimi apabila kita berbeda pendapat dengan orang lain.
Didalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering diperhadapkan dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Perbedaan pendapat itu pasti ada karena kita unik adanya, setiap orang diciptakanNya dengan berbeda. Perbedaan pendapat itu secara sadar/pun tidak justru akan membuat kita berbuat kasar jika kita tidak bisa mengendalikan diri kita. Namun apabila kita melihat kembali kepada firmanNya, didalam Rom 14:12 dikatakan: "Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah"...maka kita semakin diingatkan kembali bahwa masing-masing dari kita harus bertanggung jawab pada diri kita sendiri, kita tidak harus bertanggung jawab kepada orang lain. Jadi apabila kita merasa orang lain salah dalam pendapatnya, tugas kita hanya mengingatkan mereka tanpa menghakimi kesalahan mereka karena kita juga bukan Tuhan. Kita boleh saja tidak setuju dengan orang lain tanpa menghakimi/berbuat yang tidak menyenangkan hati orang lain..tapi dengan kemurahan hati dan penerimaan dalam penyampaiannya.

Jadi pada akhirnya, bisa kami sampaikan.....Sebagaimana Yesus telah mengasihi kita yang nista,kotor dan berdosa ini..DIA bersedia mengampuni dosa-dosa kita, mengambil kita sebagai anak-anakNya dan memberikan karunia pengampunan kepada kita... oleh karena itu kita juga dipanggil untuk mengasihi sesama kita yang kita anggap rendah/kurang dari kita. Dengan kita berperilaku sopan, tidak kasar dan bahkan menghormati mereka didalam kita mengasihi mereka, niscaya hal tersebut akan semakin membuat mereka mengenal Tuhan kita Yesus Kristus melalui tindakan kita.

"A man reaps what he sows"-Galatian 6:7b



Read More..

Thursday, 1 July 2010

Love is not proud



Dari gambar disamping..kita melihat ke dua burung yang berada pada kedudukkan yang berbeda. Apakah mereka saling membanggakan diri mereka sendiri?, apakah mereka bisa hidup dengan saling mengasihi meskipun kedudukkan/posisi mereka jauh berbeda?. Jika mereka bisa dengan senyum dan keceriaan hidup berdampingan tanpa saling berbangga diri...apakah kita sebagai manusia seharusnya bisa menjadi lebih baik dari mereka?, apakah kita bisa sedikit menyingkirkan keunggulan yang kita punya untuk mengasihi orang lain dengan tulus / tanpa membanggakan apapun yang kita miliki??

Dalam artikel kali ini kami akan berusaha membahas mengenai kasih tidak membanggakan diri sendiri. Perasaan bangga boleh saja kita miliki, namun yang bersifat positif dan membangun. Apabila kita bangga karena kita disebut anak-anak Allah, maka diharapkan kebanggaan itu bukan malah membuat kita merasa tinggi diatas angin, tapi malah membuat kita semakin hari semakin serupa denganNya sehingga mantaplah sebutan anak-anak Allah tersebut (bukan sekedar sebutan belaka). Namun pada hal yang sebaliknya, perasaan bangga yang berlebihan yang cenderung bersifat negatif akan membuat kita ingin dilayani daripada melayani, ingin kebutuhan kita dipenuhi daripada memberi orang lain, membuat kita menolak akan kebenaran bahwa tanpa kasih kita sebenarnya bukanlah apa-apa, dan bahkan menganggap diri kita bisa bertahan tanpa Tuhan (karena kita terlalu bangga dengan segala kemampuan yang kita miliki).






Sebenarnya sebuah kebanggaan itu sendiri adalah sebuah hal yang baik, yang dapat juga berubah menjadi tidak baik. Oleh karena itu kita harus sering mengevaluasi diri kita didalam terang kasihNya. Kita tahu dengan benar bahwa kasih adalah hal terbesar dalam hidup ini karena dengan kita memiliki kasih maka kita masih tetap bisa menjaga keseimbangan dalam hidup kita. Namun, kembali lagi..kasih seperti apa yang akan kita jaga, kita kembangkan, dan kita berikan kepada sesama kita???

Jika kita mencoba melihat kembali kepada perintahNya yang terdapat didalamLuk10:27, maka kita bisa melihat bahwa Tuhan sendiri mengajarkan kepada kita untuk mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Jadi tidak ada seorangpun yang seharusnya menganggap dirinya lebih penting, lebih tinggi, lebih berkuasa daripada seorang yang lain. Diajarkan dengan jelas bahwa kita harus dengan rendah hati mengasihi sesama kita, bukan dengan kebanggaan yang berlebihan / keangkuhan hati.

Apabila kita membahas lebih jauh, kebanggaan itu sendiri lebih bersifat kompetitif, sedangkan kasih lebih bersifat koperasi. Bukan berarti sebuah persaingan adalah semuanya buruk, karena tidak semuanya begitu. Namun ketika tujuan hidup kita hanya untuk membuktikan bahwa kita lebih unggul daripada orang lain, disanalah mulailah kita membuat lobang dosa bagi diri kita sendiri. Kita mulai menyombongkan superioritas/keunggulan yang kita miliki, membandingkan diri kita dengan orang lain, dan bahkan menghancurkan kesempatan bagi diri kita untuk dikasihi dan mengasihi orang lain. Secara sadar/pun tidak, kita mulai memperluas kesenjangan antara diri kita dengan orang lain dan menghalalkan segala cara yang menguntungkan diri kita sendiri. Kita cenderung mau bergaul dengan orang-orang yang selevel dengan kita (sama-sama pandai, kaya, cantik/tampan,dll), dan mulailah kita membuat kesenjangan dengan orang lain. Disisi lain, jika kita bicara tentang kasih. Kasih adalah hal yang berlawanan dengan kebanggaan. Kasih justru ada untuk mempersempit kesenjangan antara diri kita dan orang lain. Orang-orang yang kaya mampu mengasihi orang lain yang miskin..itu malah akan membuat orang lain yang miskin tersebut merasa tidak rendah diri. Kita mampu membawa diri kita ke tingkat mereka, menjadi satu dengan mereka, dan menjadi berkat untuk mereka. Kristus adalah sesosok pribadi yang bisa dijadikan contoh. Bagaimana Kristus bisa membawa diriNya yg penuh dengan kemuliaan dan berkuasa itu untuk mau datang dan melayani manusia yang berdosa, penuh dengan cacat dan nista seperti kita.

Jadi janganlah kita bangga dengan apa yang telah kita capai, tetapi malah hal itu harusnya membuat kita menjadi rendah hati karena kita tahu bahwa kita punya itu semua dari Tuhan, dan marilah kita berbagi kasih dengan orang lain. Kasih bukanlah sebuah kebanggaan bahwa kita memiliki apa yang beberapa orang lain tidak memiliki, tapi bangga bahwa kita memiliki apa yang dapat dibagi dengan orang lain sehingga semua orang dapat merasakan kasih Allah yang telah kita terima.

Kesimpulan: Bagaimanakah cara kita untuk mengasihi orang lain tanpa membanggakan diri kita??
1. Akuilah keberadaanNya maka itu akan secara tidak langsung dapat membantu kita untuk menghilangkan kebanggan diri kita yang fana.
2. Terus agungkan Tuhan dalam segala kebanggaan yang kita miliki karena semua yang kita miliki berasal dariNya.
3. Evaluasi diri secara terus menerus sehingga kita bisa cepat berbalik apabila kita telah mulai keluar dari terang kasihNya.

Semoga pembahasan singkat dari kami diatas ,yang kami dapat dari kotbah/buku yang pernah kami baca, bisa menjadi bahan perenungan kita bersama.

Keep relying on God,
Keep being humble in His grace,

Keep loving others with agape...coz agape destroys our pride




Read More..

Tuesday, 29 June 2010

Love does not boast





Apabila pada artikel yang lalu kami membahas mengenai kasih yang tidak cemburu, kali ini kami akan berusaha membahas mengenai kasih yang tidak sombong. Perasaan cemburu dan sombong timbul jika kita mulai membandingkan diri kita dengan orang lain. Jika kita merasa diri lebih rendah daripada orang lain, maka kita akan mulai cemburu dengan keberadaan orang tersebut. Namun jika kita sudah mulai merasa tidak membutuhkan orang lain, kita merasa lebih tinggi dan lebih berkuasa, maka kita mulai sombong dengan keberadaan diri kita sendiri.

Didalam 1 Kor 13:4b dijelaskan dengan jelas bahwa kasih tidak sombong. Namun....akankah kita sebagai manusia dapat mengasihi sesama kita tanpa kesombongan didalam hati kita?, jawabannya bergantung dari diri pribadi kita sendiri. Jika kita mau berubah sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan, maka kita bisa terus belajar untuk mengasihi sesama kita tanpa menyombongkan diri kita sendiri.






Bagaimana cara kita untuk dapat mengasihi sesama kita tanpa menyombongkan diri kita???...

1. Menjalin kedekatan pribadi dengan Tuhan
Dengan kita dekat dengan DIA, maka kita dapat mengetahui dan mencontoh hidupNya dan pelayananNya. DIA datang ke dalam dunia, dilahirkan, tanpa kemegahan dan kenyamanan bak seorang raja (luk2:7). Selama kurang lebih 30 tahun, dia bekerja selayaknya manusia biasa..bahkan sebagai seorang tukang kayu (mat 13:55). DIA tidak pernah sekalipun menyombongkan diriNya sebagai anak Allah (Mat 26:63). DIA hanya membiarkan orang lain mengetahuinya keberadaanNya sebagai anak Allah melalui tindakan kasihNya yang dilakukanNya pada orang lain. Bahkan sampai kematianNya dikayu salib, DIA tetap dengan penuh kerendah hatian mengampuni orang lain yang bersalah padaNya (Luk23:34). Dan karena kematianNya itu, maka kita diberi kesempatan untuk bersatu denganNya kelak di surga. Tuhan kita Yesus Kristus seharusnya memiliki banyak alasan untuk menyombongkan diriNya, namun DIA memilih untuk merendahkan diriNya dan menyerahkan hidupNya untuk melayani sesama bahkan rela mati demi kita(Fil2:7). Jika melihat hidup dan pelayananNya, kita akan semakin menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa. Apa yang kita miliki sekarang karena DIA yang terlalu baik telah memberi segalanya pada kita ..baik rumah, mobil, penghasilan yang besar, bahkan posisi yang tinggi, dll. Kita tidak dapat melakukan apapun dengan kekuatan diri kita sendiri. Jadi daripada menyombongkan diri, marilah kita mulai belajar untuk meletakkan segala kelebihan yang kita miliki dan pujian yang kita dapat untuk menyenangkan hatiNya.

2. Sadarilah hidup kita yang cukup singkat di dunia ini
Kita mengetahui didalam Alkitab bahwa kehidupan hanyalah uap yang muncul sebentar dan kemudian menghilang (Yak4:14). Dalam kehidupan yang singkat ini, kita tidak tahu kapan akan kembali ke rumah Bapa, jika kita kembalipun..kita tidak dapat membawa apapun yang ada didalam dunia ini (baik kemegahan, kekayaan, kekuasaan, kecantikkan, kepandaian, ..apapun yg kita banggakan dan sombongkan). Jadi selama kita masih hidup, marilah kita terus belajar untuk memanfaatkan waktu-waktu dalam hidup kita untuk mengasihi sesama dengan kerendahan hati.

3. Kita tidak sempurna.
Kadang kita merasa sombong dengan kesempurnaan yang kita memiliki. Dan itu yang membuat kita memandang orang lain lebih rendah, bahkan lebih bodoh dari kita. Akan tetapi, jika kita mau memberi waktu untuk mengevaluasi diri kita sendiri, kita juga sering melakukan kesalahan. membuat keputusan yang salah, mengatakan hal-hal yang bodoh bahkan melakukan hal-hal yang memalukan. Mari kita sama-sama belajar untuk menaklukkan kesombongan diri kita dengan menyadari bahwa kita juga tidaklah sempurna dan banyak kekurangan. Kita diselamatkanNya bukan karena kesempurnaan yang kita miliki, akan tetapi karena kasih karuniaNya (Ef2:8).

4. Hiduplah dengan kasih agape.
Kasih agape adalah kasih terbesar sepanjang masa. Kasih yang sempurna yang dapat kita lihat dengan jelas melalui kematian Kristus bagi dosa-dosa kita. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, akan tetapi berbahagia akan pemenuhan kepentingan orang lain. Memang kasih ini sangat susah untuk dipraktekkan, akan tetapi kita harus mulai belajar melakukannya. Karena kasih terealiasi dengan jelas melalui tindakan yang kita perbuat. (penjelasan akan kasih agape terdapat dlm artikel 26 march)

Semoga artikel yang kami sampaikan diatas bukan hanya menguatkan kami tetapi juga dapat menguatkan rekan-rekan lain yang membacanya. Dengan menerapkan kasih yang tidak sombong, maka kita akan membawa perubahan yang besar pada diri kita sendiri, keluarga, lingkungan..bahkan masyarakat yang ada disekitar kita nantinya melalui tindakan yang kita tunjukkan.

Read More..

Tuesday, 18 May 2010

Love does not envy


"Love doesn't envy" dapat diartikan bahwa kasih tidak cemburu/tidak mengandung iri hati. Kali ini kami akan membahasnya berdasarkan buku yang pernah kami baca/kotbah yang pernah kami dengarkan mengenai hal tersebut

Kita mungkin sudah pernah mendengar atau mengetahui bahwa sebuah hubungan persahatan/pacaran/pernikahan bisa hancur hanya karena perasaan iri hati/cemburu. Perasaan iri hati/cemburu membuat kita secara tidak langsung sebagai focus utama yang harus diperhatikan, dan itu yang akan membuka celah kepada dosa yang lain.

Ketika kita meletakkan diri kita lebih penting dan menjadi fokus perhatian maka kita tidak lagi memandang orang-orang disekitar kita penting adanya. "Sebab dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri disitu ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat"-Yak3:16.






Iri hati/cemburu hanya akan membuat kita kehilangan tujuan hidup ini dan memandang diri kita lebih rendah daripada orang lain. Didalam Kor13 kita tahu dengan pasti bahwa Paulus tidak mengatakan orang Kristen tidak iri hati/cemburu..tetapi kasih tidak iri hati/cemburu. Jadi apabila kita sebagai orang Kristen masih memiliki perasaan iri hati/cemburu..apakah kita masih memiliki kasih didalam diri kita??...mari kita mencoba mengoreksi diri kita masing-masing melalui pertanyaan tersebut^^.

Bagaimanakah cara kita bisa untuk mengasihi orang lain dengan tulus karena kasih tidak cemburu/tidak mengandung iri hati??...

1. Mari kita belajar untuk tidak terus membandingkan keberadaan diri kita dengan orang lain
Ketika kita mulai membandingkan diri kita, itu adalah permulaan dari iri hati/cemburu. Tuhan membentuk kita dengan unik dan spesial,jadi tidak ada yang sama persis antara manusia yang satu dengan yang lainnnya(Kej1:27)...jadi buat apa kita harus membandingkan diri kita dengan orang lain?. Orang bisa saja lebih cantik/lebih kaya/lebih pintar/bahkan lebih segalanya dari kita,tapi apakah mereka juga memiliki kelebihan yang lain yang kita miliki??.Contohnya: Lady Diana..kita melihat beliau sebagai seorang putri cantik yang luar bisa memukau dunia dengan cerita pernikahan yang menakjubkan bak seorang putri yang tiba-tiba menikah dengan seorang pangeran. Mungkin ada banyak orang yang iri hati dengan Lady Diana..tapi apakah beliau bahagia??.Apabila kita boleh menilik lebih dalam, maka kita akan menemukan seoarang Lady Diana yang merana dalam kehidupan pernikahannya, menangis dengan keadaan hidupnya dan tertekan dengan segala macam peraturan kerajaan yang ada. Jadi, jika kita melihat orang lain lebih dari kita..marilah coba kita menilik lebih dalam lagi didalam masa lalu orang tersebut..mungkin malah hal tersebut akan membuat kita menangis, sedih dan berdoa bagi mereka (bukan malah merasa iri hati kepada mereka).

2. Mensyukuri apapun yang kita miliki saat ini
Ketika perasaan iri hati/cemburu muncul dalam diri kita maka kita secara tidak sadar mulai menolak Kasih dan Kebaikkan Tuhan didalam diri kita. Kita tidak lagi melihat betapa Tuhan telah mengasihi kita dengan sempurna, tapi malah kita hanya membandingkan dengan apa yang orang lain miliki (yang tidak kita miliki). Mari kita mulai belajar untuk mensyukuri apa yang masih boleh kita miliki sekarang (1Kor4:7-8).
Belajar untuk mulai mengubah pola pikir kita secara perlahan...bukan lagi bertanya mengapa mereka?,mengapa mereka mendapat hal tersebut?,mengapa bukan saya?...tetapi mengubahnya menjadi: mengapa saya?, mengapa saya yang boleh mendapat hal yang menakjubkan ini?,saya tidak layak mendapat yang saya miliki sekarang.

3. Terus mempercayai Tuhan didalam segala hal yang terjadi
Dalam hal ini kita harus belajar untuk mempercayainya akan hal baik/buruk yang terjadi bahkan akan masa depan kita karena kita percaya bahwa DIA punya rencana yang terbaik didalam hidup kita. Tuhan mempunyai alasan akan setiap hal yang boleh terjadi didalam hidup itu..baik/buruk hal tersebut. Tuhan bukanlah mesin menjawab yang hanya akan memuaskan keinginan kita..Tetapi tetap ingatlah bahwa kita yang melayani dan menyembahNya..bukan sebaliknya!! Jadi ingatlah terus akan status kita sebagai hamba yang tidak layak untuk tidak mempercayai tuannya. DIA teramat mencintai setiap dari anak-anakNya, DIA mencintai kita dengan unik dan berbeda..jadi tidak seharusnya kita mengatakan: kenapa Tuhan jauh lebih mencintai dia daripada saya??.
DIApun memiliki rencana yang indah pada setiap kita (Maz139:15). Jadi seharusnya tujuan hidup kita adalah menyelesaikan pertandingan hidup ini dan setiap rencana yang telah dibuatNya(Ibr12:1). Kami percaya apabila kita hanya memfokuskan diri kita padaNya dalam menyelesaikan pertandingan hidup ini maka kita tidak akan mempunyai waktu lagi untuk membandingkan diri kita dengan keberadaan orang lain

We must learn everyday to love everyone purely,
but.. we can hate someone easily by provoking it
which one do we choose

Read More..

Tuesday, 4 May 2010

Love is kind




Love is kind atau kita kenal Kasih itu murah hati. Didalam kata Yunani untuk "kind" adalah chrestos yang berarti baik, lebih mudah, lebih baik, ramah, bersedia untuk mematuhi, dan menyenangkan. Bagaimanakah kasih yang murah hati itu???... Berikut akan kami bagikan mengenai kasih yang murah hati itu berdasarkan dari buku dan artikel yang pernah kami baca / dengar






Kasih yang murah hati adalah:

1. Selalu berusaha mendahulukan kepentingan orang lain yang membutuhkan dan membantu untuk menguatkan mereka yang terjatuh.
Seberapa sering dari kita masih ingat akan sesama kita yang membutuhkan?? Didalam dunia yang semakin maju ini, orang cenderung egosentris (lebih mementingkan diri mereka sendiri) daripada orang lain disekitar mereka. Akan tetapi Tuhan terus mengingatkan kita sebagai orang Kristen untuk memiliki kasih yang murah hati melalui firmanNya. Jika kita menilik kembali kepada Lukas 10:25-37, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana mengasihi sesama kita dan memberi pertolongan kepada mereka pada saat yang paling mereka butuhkan.
Memang lebih mudah bagi kita untuk mengasihi orang dengan murah hati apabila mereka berasal dari satu suku, satu marga, satu status ekonomi yang sama dengan kita. Tetapi apabila mereka berbeda suku /rasis dengan kita, akankah kita tetap mengasihi dan membantu mereka??.
Seharusnya kita lebih bijak untuk bisa memilah antara kebutuhan dengan perbedaan cara pandang/budaya/paham tersebut dan kita belajar untuk menguatkan / mengasihi sesama kita terlepas dari berbagai macam perbedaan yang ada. Terus belajar untuk melihat Tuhan Yesus Kristus dalam kebutuhan orang lain.

2. Sopan terhadap sesama kita, tidak bertingkah laku buruk dan sombong.
Sejauh apakah kita sudah berlaku sopan terhadap sesama kita?, sejauh manakah kita memandang akan keberadaan mereka?, pernahkah kita sombong akan keberadaan diri kita yang mungkin lebih daripada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering kita dengar, namun sudahkah kita mengkoreksi diri melalui jawaban yang kita berikan. Kita tidak selayaknya berlaku tidak sopan, bertingkah laku buruk dan sombong terhadap sesama kita karena kita hanyalah manusia yang berdosa...kita tidak ada bedanya dengan sesama kita yang lainnya. Kita hidup hanya karena DIA yang terlalu mengasihi kita dengan murah hatinya. Tanpa kasihNya yang murah hati itu, kita mungkin tidak dapat melewati keseharian kita dengan baik...jadi adakah alasan bagi kita untuk sombong/tidak sopan/berlaku buruk pada sesama kita??. Kristus yang agung tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Jadi...marilah kita mengasihi sesama kita dengan murah hati sama seperti Tuhan kita Yesus Kristus yang telah mengasihi kita dengan murah hati.

3. Bersifat aktif dengan mencegah orang-orang/ sahabat- sahabat yang kita jatuh dalam kehancuran hidup mereka.
Banyak orang Kristen yang malas/bahkan tidak peduli untuk mengingatkan sesama mereka yang sedang dalam kehancuran. Kita mungkin tidak mau/"pura-pura tidak tahu menahu" untuk membantu sesama kita karena kita melihat orang tersebut tidak tahu diri, pernah meremehkan kita, pernah menfitnah kita, selalu mengambil keuntungan dari kita, pernah mencelakakan kita, tidak terlalu dekat dengan kita, atau bahkan menyalah gunakan bantuan kita. Siapapun dari kita pasti pernah mendapatkan sahabat/orang-orang yang seperti itu didalam pergaulan kita...tapi apakah dengan karakter-karakter mereka yang tidak baik itu membuat pelita kita padam. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi pelita ditengah kegelapan dunia..jadi sejauh apakah pelita kita tetap menyala untuk dunia yang gelap disekitar kita dengan mencegah mereka untuk jatuh lebih dalam dalam kehancuran hidup mereka???. Mari kita ingat kembali akan teladan Kristus, Kristus mengasihi dengan murah hati orang-orang yang terpuruk dalam hidupnya (contoh: perempuan sundal, orang-orang farisi, dan pemungut cukai). Kristus bergaul dengan mereka, bahkan mengingatkan mereka kembali untuk berjalan dalam jalan kebenaran dan mencegah mereka untuk terperosok lebih dalam didalam dosa-dosa lama mereka.

4. Tegas dan berani untuk mengungkapkan kebenaran.
Kasih yang murah hati bukan hanya lembut, namun juga tegas apabila ada ketidak benaran terjadi. Tuhan kita Yesus Kristuspun juga dengan tegas dan berani untuk mengusir orang-orang yang berjualan dari Bait Suci (Yoh2:15). Kristus tidak diam saja ketika melihat hal yang tidak benar, tapi berani menyatakannya.
Apabila kita melihat sesama kita berjalan pada jalan yang salah, kitapun diharapkan untuk tegas dan berani membawa mereka kembali pada jalan yang benar. Ketika kita hanya diam saja, itu berarti kita malah akan semakin menjatuhkan mereka ...karena mereka tidak akan pernah tahu akan kesalahan mereka. Jadi..sejauh apakah kita mengasihi sesama kita dengan murah hati???

Let us together learn to love our neighbor kindly as Christ has loved us so kindly


Read More..

Tuesday, 27 April 2010

Love is patient

Setiap orang diciptakan Tuhan dengan keunikkan masing-masing. Tidak ada yang sempurna karena setiap dari kita pasti berbuat kesalahan / pernah menyakiti orang lain baik sengaja maupun tidak. Akan tetapi kita akan bisa menerima keunikkan orang lain dan bisa lebih mengkontrol diri kita sendiri untuk tidak menyakiti orang lain apabila kita mampu memiliki kesabaran didalam diri kita. Kita pasti sudah mengerti bahwa kasih itu sabar, akan tetapi kesabaran seperti apa yang dimaksud didalam kasih tersebut?, kesabaran seperti apa yang bisa menuntun kita untuk mengontrol diri kita sendiri?






Ketika kami berusaha mengingat kembali cerita-cerita yang pernah kami baca mengenai kasih yang sabar, menurut kami kasih yang sabar tersebut:

1. Kasih yang sabar adalah berusaha memahami dan mengerti orang lain sebelum kita berbicara/menghakiminya. Seringkali baik secara sadar/pun tidak kita cenderung untuk "menghakimi" orang lain yang bersalah kepada kita dengan membukakan segudang kesalahan yang telah dilakukan/ bahkan mempermalukan orang tersebut didepan umum tanpa terlebih dahulu berusaha memahami dan mengerti mengapa orang yang bersangkutan melakukan hal tersebut. Kita tidak akan pernah mengerti isi hati / pemikiran / cara pandang setiap orang dengan mendalam karena kita diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Setiap kita memiliki keunikan masing-masing dan kita hidup dengan budaya serta pola hidup yang berbeda. Jika kita mencoba untuk mengingat kembali akan cerita Tuhan Yesus dengan perempuan sundal (Yohanes 8:2-11 ), kita bisa melihat bahwa Tuhan kita memiliki kasih yang sabar luar biasa itu. Tuhan tidak langsung menghakimi perempuan sundal, tetapi DIA menilik kedalam hati dan keberadaan perempuan sundal yang ingin bertobat tersebut. Memang kita tidak dapat mengerti isi hati seseorang dengan mendalam sama seperti Tuhan kita, tapi minimal berilah waktu sejenak pada diri kita untuk memahami orang lain sebelum berkata-kata/ "menghakimi" mereka apabila mereka berbuat salah kepada kita.

2. Kasih yang sabar adalah mampu menerima apapun yang Tuhan inginkan terjadi didalam hidup kita. Kami percaya bahwa hal ini pasti sangatlah sukar untuk kita terapkan. Kita sebagai manusia seringkali tidak sabar menantikan waktu Tuhan dan menerima apa yang Tuhan inginkan terjadi, kita malah seringkali "meminta" Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau sesuai dengan cara dan waktu kita. Kita bahkan kadang berkata: "Tuhan, sekarang saya sedang terburu-buru, saya sangat membutuhkannya...tolong sekarang saja Tuhan, lekas jawab doa saya Tuhan.... Kita menangis memohon,tapi juga "memaksa" Tuhan. Seharusnya kita banyak belajar dari para misionaris yang dengan sabarnya menerima apapun yang Tuhan inginkan terjadi dalam hidup mereka...mereka menabur firman Tuhan dengan darah dan air mata, dalam waktu yang panjang..tapi mereka masih memiliki kasih yang sabar. Beberapa misionaris terbesar sejarah dengan kasih yang sabar dan setia menyebarkan benih Firman Allah, bahkan masih harus menunggu lama untuk menantikan apa yang Tuhan inginkan terjadi dalam pelayanan mereka, sebelum mereka dapat melihat buahnya. William Carey, misalnya, bekerja tujuh tahun sebelum mengkonversi Hindu pertama dibawa kepada Kristus di Burma, dan Adoniram Judson yang harus bekerja keras untuk berkotbah selama tujuh tahun dahulu sebelum pada akhirnya kotbahnya bisa diterima oleh orang-orang setempat. Kita memang tidak dapat menjadi sama seperti para misionaris tersebut, tetapi paling tidak kita dapat melatih diri kita untuk berproses bersamaNya.

3. Kasih yang sabar adalah penuh dengan berkat. Penuh berkat disini adalah bagaimana kita bisa menjadi berkat bagi orang lain melalui keberadaan diri kita. Daripada kita hanya mencari kesalahan orang lain, lebih baik jika kita mampu mengajak orang lain untuk mulai mengenal dan bertumbuh didalam Tuhan. Dengan kasih yang penuh dengan kesabaran kita mulai mengajak orang-orang yang terhilang disekitar kita untuk mengenal DIA. Dan kita juga menjadi sumber berkat itu sendiri dengan menjadi garam dan terang dimanapun kita ditempatkan (Mat5:13-16).

love is patient Pictures, Images and Photos
Patient Love is understanding everyone deeply,
Patient Love is accepting all as from the hand of God,
Patient Love is full of grace,
Thus...Patient Love is imitating our lovely God

Read More..
Our Journey © 2008 Por *Templates para Você*